Ibadah di Antara Wabah, Wabah di Antara Ibadah

Misal begini.. 


1.Ada orang yg terkena virus corona datang ke masjid.
2. Orang tersebut sholat sunah
3. Ingus nempel ditempat sujudnya(dilantai) 
4. Ia lalu berpindah tempat karena sunahnya dimasjid jika sdh sholat sunah harus berpindah tempat 
5. Lalu kamu datang dan sholat ditempat tersebut. 
6. Kamu tertular
7. Kamu pulang kerumah bersalaman dengan anak istri 
8. Anak istrimu tertular
9. Anakmu main sama temennya,  temennya tertular
10. Istrimu main ke tetangga,  tetangga tertular. 

Lihatlah, kedatanganmu ke masjid justru malapetaka. 
Ini bukan untuk selamanya,   namun HANYA SEMENTARA saja. 
Tahan dulu sebentar... Jangan memperparah keadaan. 
Di arab semua masjid sdh dikosongkan dan umat sholat dirumah.  Bahkan mekah dan madinah pun ditutup. 

Jadi shof berjarak 1.5 meter itu tdk menjamin. 
Masjid dibersihkan ketika jamaah sdh pulang,  ini sdh terlambat. 

Jadi patuhi anjuran ulama dan pemerintah. 
Islam itu mudah,  jangan dibuat susah. 
Saat ini tidak ke masjid bukan berarti iman lemah, namun justru merupakan praktek dari ajaran agama islam itu sendiri. 

Mari baca:

*HIMBAUAN RASULULLAH SAW*

«لَيسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُث فِي بَيتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُه إلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ؛ إلِّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» [أخرجه أحمد].

"Tidaklah seorang lelaki ketika terjadi wabah tha'un dia sabar berdiam diri di rumahnya dan berharap pahala dan dia mengetahui tidak akan tertimpa penyakit, maka Allah menetapkan pahala baginya seperti orang syahid." (HR. Ahmad)

«لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ»، قَالُوا: وَكَيْفَ يُذِلُّ نَفْسَهُ؟ قَالَ: «يَتَعَرَّضُ مِنَ الْبَلاَءِ لِمَا لاَ يُطِيقُ» [أخرجه الترمذي]

"Tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya," Sahabat bertanya, "Bagaimana bentuk dia menghinakan dirinya," Rasulullah menjawab, "Ia menderita dari malapetaka yang tidak mampu ditanggungnya." (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang thaun."

فَأَخْبَرَنِيأَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku bahwa wabah tha'un itu adzab yang Allah kirim kepada orang yang Dia kehendaki. Allah jadikan wabah sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang di negerinya mewabah thaun lalu ia tetap berada di rumahnya dengan sabar dan berharap pahala, ia yakin bahwa tidak ada musibah yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi dirinya melainkan baginya pahala seperti pahala seorang syahid." (HR. Al-Bukhari, al-Nasai, Ahmad. Lafadz ini milik Imam Ahmad)

“Ia tetap tinggal di rumahnya dengan sabar dan berharap pahala serta yakin musibah terjadi dengan takdir Allah” dijanjikan dengan pahala besar. Yaitu pahala syahid.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت

“Konsekuensi manthuq (makna eksplisit) hadits ini adalah, orang yang memiliki sifat yang disebut pada hadits tersebut akan mendapatkan pahala syahid walaupun tidak meninggal dunia.” (Fathul Bari: 10/194)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU LEGENDARIS ZAMAN SD 90an

PIDATO ASLI BUNG KARNO